Lindungi Remaja dengan Imunisasi

Lindungi Remaja dengan Imunisasi!

Oleh dr. Nataliana

 

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak menuju dewasa. Definisi remaja berdasarkan Departemen Kesehatan RI adalah semua laki-laki dan perempuan yang berumur 10 sampai 19 tahun dan belum menikah. Pada usia remaja, anak akan memiliki segudang kegiatan yang membuatnya rentan terkena penyakit. Itulah sebabnya, remaja juga butuh perlindungan, sama seperti bayi dan balita untuk mendapatkan imunisasi.

 

Imunisasi merupakan salah satu tindakan secara aktif untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Selama ini imunisasi yang dikenal adalah imunisasi untuk bayi (dibawah umur 1 tahun) yang digalakkan oleh pemerintah dalam rangka menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi akibat Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Imunisasi ini lebih dikenal sebagai imunisasi dasar yang terdiri dari imunisasi BCG, DPT, Hepatitis B, Polio, Campak serta HiB yang baru-baru ini sedang mulai disosialisasikan oleh pemerintah. Sama seperti pada bayi dan balita, ternyata imunisasi untuk remaja juga sangat penting untuk memelihara kekebalan tubuh berbagai penyakit infeksi akibat bakteri, virus maupun parasit dalam perjalanan kehidupan menuju dewasa.

 

Sudah memberikan imunisasi secara lengkap saat anak masih bayi dan balita, bukan berarti saat remaja, anak tidak membutuhkan imunisasi lagi. Sebab, imunisasi pada remaja diperlukan karena kekebalan yang diperoleh sebelumnya, tidak semuanya dapat bertahan seumur hidup (misalnya kekebalan terhadap penyakit Pertusis hanya bertahan sekitar 5-10 tahun setelah pemberian dosis imunisasi terakhir). Selain itu terdapat penyakit serius dengan tingkat kesakitan tinggi yang dapat terjadi pada umur remaja (misalnya penyakit kanker serviks/ mulut rahim yang erat hubungannya dengan peningkatan infeksi Human Papilloma Virus atau HPV pada remaja perempuan).1

 

Imunisasi pada remaja umumnya berupa imunisasi ulang atau booster dari hampir semua jenis imunisasi dasar pada umur lebih dini1. Pada tahun 2014, CDC mempublikasikan rekomendasi terbaru jadwal imunisasi pada umur 7-18 tahun diantaranya imunisasi TdaP, Influenza, Meningokokus, dan HPV.2,3,4 Di Indonesia sendiri, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan jadwal imunisasi tahun 2014 yang direkomendasikan di Indonesia.5 Dari jadwal imunisasi 2014 hasil rekomendasi IDAI, jenis imunisasi yang perlu diberikan pada umur remaja antara lain: TD, Influenza, Hepatitis A, Varisela, Tifoid, dan HPV.5

 

 

Tabel 1. Jadwal Imunisasi Anak Umur 0 – 18 tahun menurut IDAI tahun 2014

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia

 

Berikut penjelasan mengenai beberapa vaksin tersebut:

1. Imunisasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus)

Untuk anak umur lebih dari 7 tahun, imunisasi DPT ini diberikan sebagai dalam bentuk imunisasi Td dan di-booster setiap 10 tahun. IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Td ke 6 pada umur 10-12 tahun dan Td ke 7 pada umur 18 tahun.5 Vaksin mengandung toksoid difteri sebanyak 2 Lf dan toksoid tetanus sebanyak 7,5 Lf dalam setiap 0,5 ml vaksin.9 Imunisasi Td memberikan kekebalan lanjutan terhadap tetanus dan difteria, serta menurunkan morbiditas dan mortalitas penyakit difteria dan tetanus pada remaja.1 IDAI merekomendasikan 2x pemberian pada masa remaja, yakni 1x pada umur 10-12 tahun dan 1x pada umur 18 tahun. Suntikan imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 ml di otot lengan bahu. Walau jarang, ada beberapa efek samping yang mungkin muncul antara lain nyeri di tempat suntikan, kemerahan, bengkak, dan demam.8

 

2. Imunisasi Influenza

IDAI menyarankan pemberian imunisasi influenza ulang setiap tahunnya (1x/tahun).5 Terdapat dua jenis vaksin influenza, yakni IIV (Inactivated Influenza Vaccine) yang diberikan secara suntikan dan LAIV (Live, Attenuated Influenza Vaccine) yang berupa spray hidung.2,7 Imunisasi pertama kalinya diberikan 2x, selanjutnya dilakukan 1x setiap tahunnya sejak umur 6 bulan sampai umur 18 tahun pada semua individu tanpa memandang ada tidaknya faktor risiko. Vaksin diberikan melalui suntikan dengan dosis 0,5 ml untuk anak diatas 3 tahun atau 0,25 ml untuk bayi dibawah 3 tahun secara IM di M.Deltoideus.1,6 Efek samping yang mungkin berupa nyeri, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan, demam dan nyeri otot, walaupun hal ini sangat jarang terjadi.10

 

3. Imunisasi Hepatitis A

Imunisasi Hepatitis A dapat diberikan sejak umur 2 tahun sampai umur 18 tahun, sebanyak 2x pemberian dengan interval 6-12 bulan.5 Lama proteksi antibodi terhadap virus Hepatitis A diperkirakan menetap selama lebih dari 20 tahun. Proteksi jangka panjang dapat terjadi akibat antibodi protektif yang menetap atau akibat infeksi alamiah.1 Imunisasi diberikan melalui suntikan dengan dosis 0,5 ml secara IM.6 Efek samping yang mungkin muncul antara lain nyeri, kemerahan dan bengkak di tempat suntikan.

 

4. Imunisasi Varisela

IDAI merekomendasikan pemberian imunisasi Varisela sebanyak 1x saja. Pemberian dapat dilakukakan setelah umur 12 bulan dan terbaik pada umur sebelum masuk sekolah dasar. Bila diberikan pada umur lebih dari 12 tahun, diperlukan 2 dosis dengan interval minimal 4 minggu.5 Vaksin mengandung virus Varisela yang dilemahkan (live-attenuated) sehingga harus diberikan dalam kondisi sehat. Serokonversi didapati pada 97% individu yang divaksinasi.1 Untuk remaja diberikan 2 dosis vaksin jika belum pernah diimunisasi sebelumnya dengan interval 4 minggu.1,5 Dosis yang diberikan adalah 0,5 ml dibawah kulit. Efek samping yang mungkin muncul antara lain kemerahan, demam, nyeri dan pegal di tempat suntikan.8

 

5. Imunisasi HPV

Imunisasi HPV dapat diberikan pada laki-laki dan perempuan mulai umur 10 tahun untuk mencegah penyakit terkait infeksi HPV. 1,3,5 Vaksin HPV berisi protein rekombinan.Imunisasi HPV mempunyai efikasi 96-100% untuk mencegah kanker leher rahim yang disebabkan oleh HPV tipe 16/18.1 Terdapat dua jenis vaksin HPV yakni yang bivalen (diberikan tiga kali dengan interval 0, 1, 6 bulan) dan tetravalent (diberikan tiga kali dengan interval 0, 2, 6 bulan).1,5 Vaksin bivalen hanya dapat diberikan pada perempuan, sedangkan vaksin tetravalent dapat diberikan pada perempuan maupun laki-laki. 3 Imunisasi diberikan dengan dosis 0,5 ml diotot lengan bahu atas. Efek samping yang mungkin muncul antara lain pegal, namun terkadang juga da yang pusing, mual, sakit kepala, demam, urtikari, nyeri di tempat suntikan, kemerahan dan bengkak.8 Merk-merk yang ada di Indonesiaantara lain Cervarix® yang merupakan vaksin bivalen (tipe 16 dan 18) dan Gardasil® yang merupakan vaksin tetravalent (tipe 6, 11, 16 dan 18).1,6,8

 

 

Referensi

 

  1. Satgas Remaja IDAI. Imunisasi pada Remaja. [Diperbaharui 10 September 2013; Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://idai.or.id/public-articles/seputar-kesehatan-anak/imunisasi-pada-remaja.html
  2. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Recommended Immunization Schedule for Persons Age 0 Through 18 Years. [Diperbaharui 31 Januari 2014; Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://www.adolescentvaccination.org/recommendations-updates/cdc-schedule-0-18.html
  3. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2014 Recommended Immunizations for Children from 7 Through 18 Years Old. [Diunduh 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://www.cdc.gov/vaccines/who/teens/downloads/parent-version-schedule-7-18yrs.pdf
  4. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Preteen and Teen Vaccines. [Diperbaharui 20 Mei 2011; Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://www.cdc.gov/vaccines/who/teens/vaccines/index.html
  5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi IDAI 2014. [Diperbaharui 22 April 2014; Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://idai.or.id/public-articles/klinik/imunisasi/jadwal-imunisasi-idai-2014.html
  6. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Immunization of Adolescents. Morbidity and Mortality Weekly Report: November 22, 1996; vol.45; No.RR-13. Tersedia di: http://www.cdc.gov/mmwr/PDF/rr/rr4513.pdf
  7. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Flu Vaccine for Preteens and Teens. [Diperbaharui 11 Juni 2012; Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://www.cdc.gov/vaccines/who/teens/vaccines/flu.html
  8. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Vaccine Safety Basics. [Diperbaharui 27 Februari 2014; Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://www.cdc.gov/vaccinesafety/Vaccines/Index1.html
  9. Biofarma. Absorbed Td Vaccine. [Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://www.biofarma.co.id/?dt_portfolio=absorbed-td-vaccine-2&lang=en
  10. Biofarma. Flubio Vakson Influenza HA. [Diakses 16 Juli 2014]. Tersedia di: http://www.biofarma.co.id/?dt_portfolio=influenza-ha-vaccine-2